Newsletter subscribe

Sirah

Ujian Keimanan

ujian
Posted: October 22, 2012 at 9:29 pm   /   by   /   comments (0)

Tak pernah kita bosan membaca kisah Bapak Tauhid kita. Kisah, yang terjadi di bulan Dzulhijjah.

 

***

Berawal dari kelahiran Ismail dari Hajar, sebagai pelipur rindunya akan kehadiran seorang anak. Dan perintah Allah untuk meninggalkan mereka (Ismail dan Hajar) di sebuah lembah tak perpenghuni lagi gersang. Baru saja Nabi Ibrahim bergembira akan kelahiran anak pertamanya, namun ia diuji Allah. Hati seorang ayah mana yang tega meninggalkan buah hatinya di tempat segersang itu? Namun perkataan Hajar cukup membuatnya

pebbles2 Ujian Keimanan

tenang. Saat itu Hajar bertanya, “Apakah kepergianmu adalah perintah dari Allah?” Dan Nabi Ibrahim pun menjawabnya, “Ya.” Maka Hajar pun kembali menunjukkan kualitasnya sebagai istri seorang nabi. Dengan yakin dan mantap, Hajar mengatakan, “Jika begitu
Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan kami di sini.”

***

Selanjutnya, mari simak langsung kisahnya lewat firman Allah dalam Surat As Shaffat ayat 102-107.

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar

***

Sungguh ujian mereka amatlah berat. Ujian keimanan. Baru saja mereka bertemu, setelah sekian lama terpisah jarak. Kemudian turun wahyu, agar Nabi Ibrahim menyembelih nabi Ismail. Ayah mana yang tega menyembelih anaknya sendiri, jika itu bukan perintah Allah?

Sungguh, ujian mereka amatlah berat. Ujian keimanan. Dan sungguh, begitu hebat keimanan mereka. Hingga saat Nabi Ibrahim menanyakan perihal wahyu itu, sang anak menjawab “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Dan dari kisah ini, kita belajar banyak. Belajar untuk berpegang teguh pada keimanan. Jika pun perintah-Nya tidak kita sukai, jikapun ketentuan dari-Nya terkesan tak masuk akal. Tidakkah kita ingat kisah ini.. dan ketaatan Nabi Ibrahim dan Ismail?

Comments (0)

write a comment

Name E-mail Website Comment

comments ( 0 )