Newsletter subscribe

Tsaqafah Islamiyah

Syarat Diterimanya Amal

images (9)
Posted: February 10, 2013 at 1:24 pm   /   by   /   comments (0)


download%252520%2525281%252529 Syarat Diterimanya Amal Manusia sebagai makhluk Allah diciptakan dengan tujuan yang mulia, yaitu sebagai khalifah di bumi ini. Dengan modal akal dan hati yang dimiliki manusia diamanahi tanggung jawab ini. Hal ini tidaklah mudah, Bahkan Allah pun berfirman:

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS Al Ashr : 1-3)

Dari ayat tersebut kita tahu bahwa sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Namun bukan berarti hal ini membuat kita kufur akan nikmat kehidupan yang Allah berikan. Telah disediakan oleh Allah dua tempat setelah berakhirnya alam dunia ini, surga dan neraka untuk manusia dan makhluk Allah lainnya. Jika boleh memilih, tentunya kita semua ingin masuk surga. Namun yakinkah kita dengan segala rupa amalan yang telah dilakukan untuk bisa menjadi salah satu bagian di surga kelak? Amalan yang telah dilakukan pun belum tentu Allah terima, hanya Allah yang tahu nasib diterimanya amalan kita.

“Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan? Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka), diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas. Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.” (QS. Al Ghasyiyah: 1-7)

Ayat tersebut merupakan cerita tentang kondisi sebagian penghuni neraka di hari akhirat nanti. Perlu diketahui bahwa tidak semua penghuni neraka tidak pernah beramal dan hanya melakukan maksiat. Ada pula penghuni neraka yang ternyata selama di dunia terus beramal namun ternyata Allah menghendakinya untuk masuk neraka. Lalu, apa sebenarnya yang membuat amalan diterima di sisi Allah?

Pada umumnya terdapat dua syarat yang harus terpenuhi agar amalan kita diterima oleh Allah. Ikhlas dan ittiba’ kepada Rasulullah, kedua syarat ini harus terpenuhi jika kita ingin amalan kita tidak tertolak. Ikhlas yaitu memaksudkan ucapan, perbuatan, diam, bergerak, yang dirahasiakan, yang ditampakkan, hidup atau mati hanya untuk mengharap ridha Allah semata. Bahkan jika amalan manusia tidak ikhlas, hal tersebut tidak hanya akan membuat amalannya tertolak tetapi juga bisa memasukkannya ke dalam neraka. Perkara ini memang sangat halus untuk bisa terdeteksi.

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersetukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya. (QS Al Kahfi:10)

Bagaimana cara kita mempraktekkan ikhlas ini? Dimulai dengan niat. Niatkan apa pun yang kita lakukan hanya untuk mengharap wajah Allah semata, bukan pandangan dunia. Dan juga selalu perbaharui niat kita karena ada kalanya niat yang telah tertancap di hati terbolak-balik. Mintalah kepada Allah, Maha Pembolak- Balik hati untuk senantiasa meluruskan hati ini.

Syarat kedua yaitu ittiba’ kepada Rasulullah, yaitu mengamalkan yang telah Allah syariatkan dan mengikuti sunnah Rasulullah. Ittiba’ adalah kata bentukan dari kata ittaba’a (mengikuti). Dikatakan mengikuti sesuatu jika berjalan mengikuti jejaknya dan mengiringinya. Dan kata ini berkisar pada makna menyusul, mencari, mengikuti, meneladani dan mencontoh.

Menurut istilah syar’I, ittiba’ yaitu meneladani dan mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam keyakinan, perkataan, perbuatan dan di dalam perkara-perkara yang ditinggalkan. Beramal seperti amalan beliau sesuai dengan ketentuan yang beliau amalkan, apakah wajib, sunnah, mubah, makruh atau haram.

Makna perkataan “sesuai dengan ketentuan yang beliau amalkan” adalah adanya kesamaan di dalam tujuan dan niat perbuatan itu – berupa keikhlasan dan pembatasan terhadap perbuatan itu dari segi wajib atau sunnahnya – karena tidak dapat dikatakan meneladani jika berbeda tujuan dan niatnya meskipun sama bentuk perbuatannya. Jika maksud melakukannya bukan untuk meneladani dan mencontoh maka tidak akan dikatakan sebagai ittiba’.

Ada banyak firman Allah yang memerintahkan kita untuk berittiba’ kepada Rasulullah.

 “Katakanlah (wahai Muhammad): Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah hendaklah kalian mengikutiku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)

 “Pada hari ini telah telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagi kalian.” (QS. Al Maaidah: 3)

“Hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khalifah ar-rasyidin (yang diberi petunjuk) sesudahku, gigitlah dengan gigi geraham kalian, dan hati-hatilah dari setiap perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya perkara yang baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan adalah di neraka.” (HR. At-Tirmidzi IV:149 dan Ibnu Majah II:1025)

Untuk dapat ber-ittiba’ kepada Rasulullah, tentunya kita harus mengenali sosok Rasulullah, manusia yang paling mulia di muka bumi ini. Kehidupan Rasulullah adalah kehidupan yang penuh teladan bagi umat, acuan dakwah sekaligus sebagai pedoman hidup. Beliau adalah teladan dalam ketaatan, dalam beribadah dan berakhlak yang mulia. Teladan dalam bermuamalah yang baik dan dalam menjaga kehormatan dan kemuliaan. Cukuplah pujian Allah atas beliau sebagai buktinya, Allah berfirman,

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung .”(QS Al-Qalam:4)

***

Sahabat Mata’, setelah kita tahu dua syarat diterimanya amal yaitu ikhlas dan ittiba’, alangkah baiknya kita mempraktekannya dalam amalan kita. Tentunya kita tidak ingin jika amalan kita tertolak. Seperti dalam firman Allah, “Dan Kami datang kepada amalan yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al Furqan: 23). Semoga kita tidak menjadi bagian dari orang yang rugi seperti yang termaktub dalam QS Al Ashr. Kita tentunya ingin menjadi bagian dari orang-orang yang memiliki wajah yang berseri-seri di akhirat kelak. “Banyak muka pada hari itu berseri-seri, mereka senang karena amalannya, dalam surga yang tinggi.” (QS. Al Ghasyiyah: 8-10).

Jadi, marilah kita sama-sama untuk selalu perbaharui niat kita, serta mintalah pada Allah untuk mengokohkan hati ini agar selalu ikhlas mengharap ridha Allah. Selain itu, jangan pernah bosan dan lelah untuk menuntut ilmu dan mengenal Rasulullah karena sungguh dalam diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik dan tentunya banyak kisah yang memotivasi kita. Ilmu syar’i yang kita miliki dan terus dicari diharapkan bisa menjadi pedoman kita dalam beramal sesuai dengan yang telah diajarkan Rasulullah.

Wallahu a’lam.

Comments (0)

write a comment

Name E-mail Website Comment

comments ( 0 )