Newsletter subscribe

Fiqih Kontemporer

Shalat Ala Rasulullah (I)

sholat
Posted: September 28, 2012 at 10:59 pm   /   by   /   comments (1)

ibadah Shalat Ala Rasulullah (I)
Bismillah..

Apa kabar shalatmu hingga hari ini?

Sudahkah shalat menjadi hal yang penting dalam hidup kita? Jika jawabnya iya, sudahkah ada keinginan di hati untuk memperbaiki shalat kita? Shalat yang selama ini kita lakukan, tidak ada yang bisa menjamin apakah diterima atau tidak. Padahal baik buruknya shalat, merupakan indikator atas amalan lainnya, seperti yang diungkapkan dalam sebuah hadist :

“Amal seorang hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat (nanti) adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya, dan apabila shalatnya buruk, maka buruk pula seluruh amalnya.” (HR. Ath-Thabrani dalam al-Ausath). Maksud dari akhir hadist tersebut adalah seluruh amal yang telah ia  kerjakan tidak diterima [1] (karena shalat tidak benar-red)

Jika kita semua merenungi hadist di atas, belajar shalat adalah hal penting dan mendesak. Hanya dengan meluangkan waktu beberapa menit belajar tentang shalat, Insya Allah akan mengubah nilai seluruh amal shalih kita. Maka, untuk alasan apa lagi kita menunda-nunda?

Kesulitan yang sering ditemui saat kita ingin belajar shalat yang benar adalah adanya banyak perbedaan. Sehingga kebanyakan orang yang belajar shalat kemudian bingung dan bertanya-tanya, yang benar yang mana? Harus ikut pendapat yang mana? Dan pertanyaan senada lainnya.

Sahabat Mata’, yang perlu diperhatikan di sini (dalam perbedaan pendapat) yaitu cara kita beragama dan beribadah adalah mengikuti sunnah Rasulullah salallahu’alaihi wassalam, alias melihat dalilnya. Jadi, dimanapun kita belajar asalkan mereka membawa dalil yg shahih dan relevan, ikutilah. Jangan sampai ibadah yang kita lakukan hanya mengikuti pendapat orang saja, kata fulan, kata budi dan lain-lain tanpa dalil yang jelas. Maka diperlukan pertimbangan dan sifat kritis dalam perbedaan pendapat yang ada.

Al-Imam Ahmad rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya seseorang melakukan penyelisihan karena sedikitnya pengetahuan mereka tentang segala apa yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [2]

Bahasan tentang shalat ini insya Allah akan disajikan dalam dua tulisan. Untuk kali ini, kita akan belajar shalat ala Rasulullah dari berdiri hingga I’tidal.

1. Berdiri dan Niat

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika kalian hendak melakukan shalat, maka sempurnakanlah wudhu’ kemudian menghadaplah kearah qiblat lalu bertakbirlah…” (HR Bukhari & Muslim).

Dari hadist di atas, bisa dilihat dengan jelas bahwa tidak ada keterangan yang mensyariatkan bacaan apapun sebelum takbir.

2. Takbir dan bersedekap

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya lurus dengan kedua bahunya ketika beliau memulai shalat, ketika bertakbir untuk ruku’, dan ketika mengangkat kepalanya dari ruku’. (Muttafaq Alaihi).

Dari Malik bin alHuwairits “Beliau mengangkat kedua tangannya sampai sejajar dengan kedua telinganya” (HR Muslim)
Al-Imam asy-Syafi’i menggabungkan hadits yang menyatakan sejajar dengan bahu dan hadits yang menyatakan sejajar dengan telinga, maknanya adalah : telapak tangan sejajar dengan bahu, sedangkan ujung-ujung jemari tangan sejajar dengan telinga.

Wail Ibnu Hujr berkata: “Aku pernah shalat bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam beliau meletakkan tangannya yang kanan di atas tangannya yang kiri pada dadanya.” Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah.

Sebenarnya ada juga hadist yang menerangkan posisi tangan pada saat bersedekap (di dada, di pusar, di bawah pusar, atau antara dada dan pusar), namun hadist-hadist tersebut dipertanyakan keshahihannya.  Jadi Insya Allah bebas mau dimana aja. Baiknya coba dipelajari lagi.

3. Al Fatihah

“Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Ummul Qur’an (al-Fatihah).” (Muttafaq Alaihi).

Tentang membaca al Fatihah bagi makmum terdapat perbedaan pendapat oleh para ulama, yaitu perlu dibaca lagi (setelah imam membaca) atau cukup mendengar saja. Selengkapnya silahkan dipelajari lagi.

Kemudian setelah membaca al Fatihah Rasulullah membaca sebagian dari al Quran (baik satu surah atau sebagian) pada dua rakaat pertama.

4. Ruku’

” … kemudian ruku’lah kamu sampai kamu tuma’ninah (Tenang dan tidak terburu-buru) dalam keadaan ruku’.” (HR Bukhari & Muslim)

”Wahai kaum muslimin, sesungguhnya tidak sah shalat seseorang yang tidak meluruskan punggungnya dalam ruku dan sujud.” (HR Ibnu Majah &Ahmad).

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dalam ruku’ dan sujudnya membaca: “subhaanaka allaahumma rabbanaa wabihamdika allahummaghfirlii” (Maha Suci Engkau, ya Allah Tuhan kami dengan memuji-Mu, ya Allah ampunilah aku). (MuttafaqAlaihi)

atau ”Subhana rabbiyal’adhim (Maha suci Allah yang maha Agung)” (3x) (”Mahasuci Tuhanku Yang Mahaagung”) (Dibaca 3 kali) (HR. Ahmad, Abu Daud & Ibnu Majah).

5. I’tidal

“…kemudian bangkitlah (dari ruku’) sampai kamu tegak lurus berdiri.” (HR Bukhari&Muslim) Kemudian Rasulullah salallahu’alaihi wassalam bangkit dari ruku sambil mengucapkan ”Sami’allahu liman hamidah” (Allah mendengar orang yang memujiNya”) (HR Bukhari & Muslim). Kemudian membaca,

“…Rabbana lakal hamdu mil us samaawaati wa mil-ul-ardhi wa mil’umaa syi’ta min syain ba’du” (Ya Allah ya Tuhan kami, bagi-Mu-lah segala puji, sepenuh langit dan sepenuh bumi, dan
sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki sesudah itu).” (HR Muslim)

“apabila (imam) mengucapkan sami’allahu liman hamidah (Allah Maha Mendengar orang yang memujiNya), maka ucapkanlah oleh kalian (makmum) : Rabbana lakal hamdu (wahai Rabb kami, hanya bagi Mu lah segala puji). (Muttafaq Alaih)

Berarti dalam hal ini, makmum jangan membaca sami’allahuliman hamidah juga saat i’tidal.

Sedangkan, masalah mengangkat tangan ketika akan turun sujud ternyata tidak diriwayatkan dari Nabi.

Bahkan Ibnu Umar berkata, “Nabi tidak melakukan yang demikian itu (mengangkat tangan) ketika akan sujud.”

Terkait masalah lutut dulu atau tangan dulu yang menyentuh tanah, masih terdapat perbedaan yang panjang dikalangan ulama.

 

[1] “Fatwa-fatwa Syaikh Nashiruddin Al Albani”
[2] (I’lamul Muwaqqi’in, 1/44)

Sumber : Riyadhus shalihin Bab 119

Comments (1)

write a comment

Name E-mail Website Comment

comments ( 1 )

  • December 16, 2012 at 7:34 am Irfan

    ijin menambahkan kang, :)

    1. Berdiri dan Niat
    Niat menurut syara’ adalah bermaksud atau menyengaja mengerjakan sesuatu dg perbuatannya, yaitu menyengaja berbuat sesuatu yg diinginkan untuk dikerjakannya dan keinginan atau maksudnya ini dibarengi dg mengerjakan sesuatu yg dikehendaki tersebut (I’anatut Thalibin Juz 1/126)
    Menurut madzhab Syafi’i & Hanbali, sunnah hukumnya melafadzkan niat sebelum takbir (Fathul Mu’in; Tuhfah al-Muhtaj, II/12; al-Mughni al-Mukharraq 1/464). Melafadzkan niat sebelum takbir berfungsi sebagai alat bantu memperingatkan hati dalam berniat ketika takbir.
    Menurut madzhab Maliki & Hanafi, melafadzkan niat tidak disyariatkan dalam shalat, kecuali org yg mau shalat itu was-was.

    2. Takbir dan bersedekap
    Dalam ber-takbiratul ihram, jangan terlalu rendah atau terlalu tinggi mengangkat tangan. Adapun yg dianut oleh madzhab syafi’i dan maliki : ujungjari kedua tangan disejajarkan dg ujung telinga, ibu jari disejajarkan dg pangkal daun telinga; telapak tangan disejajarkan dg pundak.

    Mengenai posisi tangan saat sedekap, para imam madzhab berikhtilaf,
    Imam Hanafi & Hanbali : dibawah pusar
    Imam Maliki & Syafi’i : dibawah dada diatas pusar

    3. Al Fatihah
    Tentang membaca al Fatihah bagi makmum,
    madzhab syafi’i : wajib membaca al-fatihah bagi makmum, baik imamnya membaca scra jahar atau sir
    madzhab hanafi : tidak wajib membaca al-fatihah bagi makmum, baik imamnya membaca scra jahar atau sir
    madzhab hanbali & maliki : tidak wajib membaca al-fatihah bagi makmum scr mutlak

    **dalam kitab safinatun naja (madzhab imam syafi’i), sunnahnya mengangkat tangan :
    a. ketika takbiratul ihram
    b. ketika akan rukuk
    c. ketika akan i’tidal
    d. ketika berdiri dari tasyahud awal

    *** dalam urusan ibadah, kita harus mengikuti pendapat satu imam madzhab, ga mungkin kita kaji tiap perkara satu2 dari dalil al-qur’an ato hadits.., :)

    Reply