Artikel Bebas

Shalat Ala Rasulullah (II-Habis)

shalat boy Shalat Ala Rasulullah (II Habis) Setelah mengetahui bahwa shalat yang merupakan indikator amalan-amalan kita yang lain, kita lantas jadi terbangun dan sadar bahwa belajar shalat yang benar dan baik itu penting. Dari siapa kita belajar? Tentunya dari Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam. Melanjutkan dari bagian pertama yang telah membahas dari berdiri hingga i’tidal, kali ini akan dikupas habis dari sujud hingga salam.

6. Sujud

“Kemudian sujudlah kamu sampai kamu tuma’ninah [3] dalam sujud..” (HR Bukhari & Muslim)

“Aku diperintahkan untuk bersujud di atas tujuh tulang pada dahi. Beliau menunjuk dengan tangannya pada hidungnya, kedua tangan, kedua lutut, dan ujung-ujung jari kedua kaki.” Muttafaq Alaihi.

Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bila ruku’ merenggangkan jari-jarinya dan bila sujud merapatkan jari-jarinya. (HR Hakim.)

“Luruslah kalian dalam sujud!” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

“Yang dimaksud lurus dalam sujud, adalah seimbang tumpuan pada kedua kaki, kedua lutut, kedua tangan, dan wajah. Jadi, tidak ada satu anggota sujud yang mendapat beban lebih dari yang lain. Dengan demikian, terwujudlah sabda Rasulullah , “Aku diperintah untuk sujud di atas tujuh tulang.[4] ”

Jadi yang dimaksud lurus bukan merentangkan punggungnya dengan berlebihan sehingga hampir-hampir dalam posisi tiarap, sembilan puluh derajat saja atau kurang sedikit.

Hadist dari Aisyah rhadiallahuanha

“Aku kehilangan Rasulullah —tadinya beliau bersamaku di atas tempat tidurku. Ternyata aku dapati beliau sedang sujud dengan menempelkan kedua tumit beliau dan mengarahkan ujung- ujung jari-jemari beliau ke arah kiblat….” (Shahih Ibni Khuzaimah dan al-Hakim)

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merapatkan jari-jari tangan ketika sujud.” (HR. Ibn Khuzaimah dan Al Baihaqi dan dishahihkan Al Albani)

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menempelkan dahi dan hidungnya ke lantai…” (HR. Abu Daud, Turmudzi)

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam apabila shalat dan sujud merenggangkan kedua tangannya sehingga tampak putih kedua ketiaknya. (Muttafaq Alaihi).

“Apabila engkau sujud letakkanlah kedua telapak tanganmu dan angkatlah kedua siku-sikumu.” (HR Muslim).

Tapi ketika melaksanakan shalat berjamaah, jangan sampai kita mengganggu orang lain. Yang menjadi poin penting adalah siku yang lebih naik.

Terkait bacaan sudah tertera di point ruku’, ataupun bisa membaca

“Subhaana rabbiyal a’laa (Maha suci Allah yang Maha tinggi)” 3x (HR Ahmad dll)

7. Duduk diantara dua sujud

“Kemudian bangkitlah sehingga kamu duduk dgn tuma’ninah…” (HR Al-Bukhari)

“Allah tdk akan melihat kpd shalat seseorang yg tidak menegakkan tulang punggungnya di antara ruku’ & sujudnya.” (HR Ahmad, dgn isnad shahih)

Ada dua cara duduk diantara dua sujud yaitu duduk iftirasy (seperti tahiyat awal kebanyakan Muslim di Indonesia) dan duduk Iq’a

“Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghamparkan kaki beliau yang kiri dan menegakkan kaki yang kanan (duduk iftirasy), beliau melarang dari duduknya syaithan.” (HR. Ahmad dan Muslim)

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang duduk iq’a, yakni [duduk dengan menegakkan telapak dan tumit kedua kakinya].” (HR.Muslim, Abu ‘Awanah dan Abu Asy-Syaikh)

Adapun bacaannya ”Rabbighfirlii warhamnii wajburnii warfa’nii, wahdinii, wa’aanifinii, warzuqnii.” (”Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupkanlah aku, angkatlah derajatku, berilah aku petunjuk, jadikanlah aku sehat dan berilah rizki).” (HR Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah). Dan masih banyak lagi bacaan yang lain.

8. Tasyahud awal dan akhir

“Maka apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di raka’at kedua (tasyahud awal) beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya. Dan apabila duduk di raka’at yang terakhir (tasyahud akhir), beliau memajukan kaki kirinya dan menegakkan kaki (kaki kanan) dan duduk di atas tempat duduknya.” (HR. Bukhari dan Abu Dawud)

Para ulama berbeda pendapat tentang letak duduk tasyahud dalam shalat dua raka’at, seperti shalat Shubuh, shalat Jum’ah, dan shalat sunnah rawatib. Sebagian mengatakan duduk iftirasy sebagaimana tasyahud awal, sebagian lain duduk tasyahud akhir. Silahkan dipelajari lagi.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika duduk tasyahud, meletakkan tangan kanannya di atas paha kanannya dan tangan kirinya di atas paha kirinya, dan beliau berisyarat dengan telunjuknya, dan beliau meletakkan ibu jarinya pada jari tengahnya, dan beliau menutupkan telapak tangan kirinya pada lutut kirinya.” (HR. Muslim)

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan kedua tangan dan sikunya di atas pahanya, dan meletakkan kedua ujung jarinya di atas kedua lututnya, dengan posisi menggenggam jarinya dan membentuk lingkaran. Kemudian beliau mengangkat jari telunjuknya dan berdo’a sambil menggerakkannya.” (HR. Ahmad, Bukhari, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ad-Darimi, Ibnul Jarud, Ath- Thabarani, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Bahaqi dan Ibnul Jauzi)

“…sementara pandangan mata tertuju pada jari telunjuk tersebut.” (HR. Muslim, Abu ‘Awanah dan Ibnu Khuzaimah)

“Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedang duduk dalam shalat, beliau meletakkan tangan kanannya di atas pahanya yang kanan sambil mengangkat jari telunjuknya, dengan membungkukkannya sedikit ketika berdoa.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah dengan sanad yang cukup baik)

“Attahiyyatul mubaarakaatush shalawaatuth thayyibaatu lillah. Assalaamu’alaika ayyuhan nabiyu wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Assalaamu’alaina wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shalihiin. Asyhadu anlaa ‘ilaaha illallaah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu“ “Segala penghormatan, keberkahan, kesejahteraan dan kebaikan bagi Allah. Semoga keselamatan, rahmat dan barakah Allah senantiasa dilimpahkan kepadamu wahai Nabi (Muhammad). Semoga juga dilimpahkan kepada kami dan kepada semua hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi sesungguhnya tiada Tuhan kecuali Allah, dan aku bersaksi sesungguhnya Nabi Muhammad adalah utusan-Nya.” (HR. Muslim, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Ad-Daruqutni, Ahmad, dan Syafi’i)

“Allahumma shalli ‘alaa Muhammad, wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shallaita ‘alaa Ibraahiim, wa’alaa aali Ibrahim. Wa baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad. Kama baarakta ‘alaa ibraahiim wa ‘alaa aali ibraahiim. Innaka hamidum majiid”

“Ya Allah limpahkanlah kebahagiaan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberi kebahagiaan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahkanlah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberi keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.” (HR. Imam Syafi’i)

Dan masih banyak lagi hadist tentang bacaan tasyahud dan shalawat yang tidak disebutkan disini. Silakan dipelajari .

 

[3] Tenang dan tidak terburu-buru

[4] al-Qadhi Abu Bakr Ibnul Arabi t dalam ‘Aridhatul Ahwadzi

Sumber : Riyadhus Shalihin Bab 119

This Post Has 0 Comments

Leave A Reply