Newsletter subscribe

Tsaqafah Quraniyah

Satu Juz Perhari?

262441_10151893195563219_1482966009_n
Posted: May 23, 2013 at 4:47 pm   /   by   /   comments (1)

Bismillaah,

Tulisan ini penulis buat sebagai pengingat bagi diri penulis sendiri dan bagi sahabat sekalian yang membacanya. Dan izinkanlah penulis untuk mengawali tulisan ini dengan sebuah pertanyaan: “Seberapa banyakkah interaksi kita dengan Al-Qur’an setiap harinya?”

Sahabat, sesungguhnya Allah Subhaanahu wa ta’ala berfirman dalam kitabnya yang mulia,

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, Maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran…” (Al-Muzzammil: 20)

Dalam ayat tersebut Dia mengingatkan kita, hamba-Nya, untuk senantiasa menyempatkan diri membaca firman-Nya yang mudah bagi kita dalam kondisi sesulit apapun. Dan bahkan perintah ini Dia ulangi dua kali dalam ayat yang sama. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya perintah Allah tersebut.

Dan yang menjadi pertanyaan adalah, apa yang Dia maksud dengan kata “mudah” dalam perintah-Nya: ‘Bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an’?

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin ‘Ash, ia mengatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda, ”Bacalah Al-Qur’an dan khatamkan dalam sebulan.” Aku berkata, ”Aku masih kuat untuk lebih cepat.” Beliau bersabda, ”Bacalah dan khatamkan dalam sepuluh hari.” Aku berkata lagi, “Tetapi aku masih kuat untuk membaca lebih cepat.” Beliau bersabda, “Bacalah dan khatamkan dalam tujuh hari dan jangan lebih cepat dari itu.”

 

Pada riwayat lain (dari hadits riwayat Abu Daud) disebutkan ketika Abdullah bin Amru berkata, “Sesungguhnya aku bisa lebih kuat dari itu” maka Rasulullah Saw bersabda, “Bacalah olehmu pada tiga hari”

 

Maka dari hadits ini dapat kita ketahui bahwa satu juz per hari adalah sebuah standar minimal bagi seorang muslim! Dan dari hadits ini dapat kita pahami bahwa yang Allah maksud dengan kata “mudah” dalam firman-Nya bukanlah sesuai dengan persangkaan kita belaka. Tetapi rasul-Nya telah menyatakan sebuah standar minimal satu juz bagi ummatnya.

 

Lantas, apabila yang dimaksud dengan kata mudah adalah kita membaca Al-Qur’an minimal sebanyak satu juz setiap harinya, mengapa banyak diantara kita yang masih tidak mampu untuk melakukannya?

 

Dalam sebuah majelis ta’lim penulis pernah mendengar bahwa sutu ketika Rasulullah pernah mengajak Hudzaifah untuk shalat malam bersama. Maka pada shalat malam tersebut beliau membaca surah Al-Baqarah dengan perlahan-lahan dan sangat menghayati bacaannya. Saking lamanya shalat Rasulullah, hudzaifah sampai mulai merasa tidak sabar. Akan tetapi  yang beliau lakukan adalah menipu hatinya sendiri dan memperkuat azzamnya dengan menyangka, “Mungkin beliau akan ruku’ setelah ayat ke-100”.

Namun, ternyata beliau melanjutkan bacaannya dan melebihi ayat ke-100. Kemudian lagi-lagi hudzaifah kembali menguatkan hatinya sendiri dengan menyangka “Mungkin beliau akan ruku’ pada akhir surat Al-Baqarah”. Dan diluar dugaan hudzaifah, Rasul masih melanjutkan bacaannya. Hal ini terus berulang sehingga Rasul membaca surat An-Nisaa dan kemudian dilanjutkan surat Ali-Imran hingga selesai. Total beliau membaca sekitar 5 juz dalam rakaat tersebut.

Ada dua buah pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah di atas. Pelajaran pertama adalah, tindakan hudzaifah yang selalu menguatkan hatinya sendiri ketika kelemahan mulai menyapa. Dan dengan melakukan hal ini, beliau pun berhasil menyertai rasulullah dalam shalatnya yang begitu panjang tersebut hingga selesai.

Pelajaran kedua yang dapat kita ambil dari kisah tersebut adalah, walaupun tidak pernah disebutkan dalam sejarah, kita yakini bahwa setelah shalat malam tersebut, hudzaifah menjadi jauh lebih panjang dari shalat-shalatnya selama ini. Hal ini dimaklumi karena setelah merasakan shalat yang begitu panjang, maka seseorang pasti akan merasakan bahwa shalat-shalatnya selama ini begitu ringan sehingga standar kemampuannya pun meningkat dari shalat yang pendek menjadi jauh lebih panjang.

Maka setelah membaca kisah ini, seharusnya tidak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak mampu membaca Al-Qur’an minimal satu juz setiap hari. Karena sesungguhnya, sebagaimana dikisahkan di atas bahwa kemampuan hudzaifah dalam shalat malam ternyata jauh di atas yang beliau persangkakan atas dirinya sendiri, kemampuan yang kita miliki adalah jauh lebih besar. Hanya saja, kita sering membatasi diri kita sendiri dengan merasa terlalu sibuk, terlalu lelah, dan alasan-alasan lain yang membuat kita begitu sulit untuk dapat membaca satu juz saja dari Al-Qur’an.

Tirulah tindakan Hudzaifah yang senantiasa menguatkan dirinya sendiri  ketika syetan membisikkan kelemahan kedalam hati beliau dan beliau pun mulai merasa lemah. Dengan cara ini in syaa’ Allah kita akan menyadari bahwa sesungguhnya target satu juz per hari adalah sangat mudah.

Dan sahabat Rasul yang mulia, Utsman bin Affan pernah berkata, “Seandainya hati-hati itu bersih maka tidak akan pernah merasa puas dalam membaca Al-Quran”. (Al-Ihya: 1″ 522)

Maka mari kita introspeksi diri kita sejenak, bila untuk membaca satu juz per hari saja kita merasa begitu berat, seberapa kotor hati kita ini…?

Wallahu A’lam bis Shawwab

Rifko Rahmat Kurnianto – MSQ Mata’ XIX

Comments (1)

write a comment

Name E-mail Website Comment

comments ( 1 )