Newsletter subscribe

Tsaqafah Quraniyah

Benang Merah Empat Kisah dalam Surat Al Kahfi (1)

Ashabul Kahfi
Posted: February 16, 2013 at 1:45 pm   /   by   /   comments (0)

Islam kaya akan kisah dan hikmah, salah satunya yang ada dalam setiap surat Al Qur’an. Sebagai contoh dalam surat Al Kahfi.

Surat Al Kahfi merupakan salah satu surat yang diturunkan sebelum Rasulullah hijrah. Surat ini diturunkan  setelah surat Al Ghasyiyah. Dalam urutan mushaf merupakan surat ke-18 yang berjumlah 110 ayat. Surat Al Kahfi berisi empat kisah yang memiliki hubungan, yaitu kisah Ashabul Kahfi, kisah dua pemilik kebun, kisah Nabiullah Musa dan Khidhr, serta kisah Dzul Qarnain. Setiap kisah diakhiri dengan beberapa ayat sebagai tanggapan mengenai kisah tersebut.

Seperti apakah alur kisah yang disuratkan oleh Allah? Apakah kaitan kisah satu dengan yang lain?

 

2595228837 aa78c0eeb5 m Benang Merah Empat Kisah dalam Surat Al Kahfi (1)

 

 

 

 

 

 

Kisah Ashabul Kahfi (Penghuni Gua)

Kisah pertama tentang perjuangan beberapa pemuda beriman dalam menyeru kebaikan. Pemuda-pemuda tersebut hidup dalam suatu negeri yang dikuasai oleh raja zhalim yang tidak beriman. Setiap kali pemuda-pemuda tersebut menyeru kaumnya untuk beriman kepada Allah, mereka selalu menolak dan menentang.

“Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri , lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (Al Kahfi :14-15)

Karena selalu ditindas dan didustakan oleh kaumnya sendiri, Allah memerintahkan mereka agar bersembunyi di gua.

“… maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.” (Al Kahfi: 16)

Allah menganugerahkan beberapa mukjizat agung untuk menjaga mereka. Salah satu mukjizat tersebut adalah mereka tertidur selama 309 tahun di gua.

“Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).” (Al Kahfi 25)

Setelah para pemuda ashabul kahfi terbangun, mereka menemukan kaumnya telah beriman dan akhirnya mereka hidup di tengah masyarakat baru dimana seluruh penduduknya mukmin.

 

Kisah Dua Pemilik Kebun

Kisah dua orang laki-laki yang diberi nikmat oleh Allah berupa kebun yang subur. Namun, salah satu pemilik kebun lupa terhadap pemberi nikmat, hingga ia berlaku sewenang-wenang dan berani menghina prinsip-prinsip keimanan.

“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. … Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri ; ia berkata: Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya. ” (Al Kahfi 32-35)

Di ayat selanjutnya, ayat 36-37 digambarkan bagaimana pemilik kebun yang lupa akan nikmat Allah dan benar-benar telah teperdaya oleh kekayaan. Karena kekufurannya itu, Allah membalikkan nasib pemilik kebun tersebut dengan membinasakan kebunnya.

“Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.” ( Al Kahfi 42)

 

Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidhr

Suatu ketika masyarakat bertanya kepada Nabi Musa as., “Siapa yang paling pandai di bumi ini?” Ia menjawab mereka dengan menyatakan bahwa dirinyalah yang paling pandai di dunia ini. Ia menyangka mempunyai ilmu yang dapat mengantarnya menjadi manusia paling pandai, apalagi ia termasuk para rasul yang mendapat gelar ulul azmi.

Lalu Allah mewahyukan kepada Nabi Musa bahwa ada manusia yang lebih pandai darinya. Karena itu, Allah menyuruhnya melakukan perjalanan ke daerah tertentu, di pertemuan dua lautan. Maka ia pun melakukan perjalanan jauh sampai merasa sangat lelah. Saat itu ia berkata kepada muridnya

“Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.” (Al Kahfi 62)

Ia terus melakukan perjalanan sampai benar-benar merasakan kelelahan. Hingga akhirnya, ia bertemu dengan seorang laki-laki shalih yang mempunyai ilmu penting yang tidak dimiliki oleh kebanyakan manusia, yaitu ke-tsiqah-an (kepercayaan) pada ketentuan Allah yang pasti mempunyai hikmah. Ilmu ini juga dinamakan ilmu pengenalan kepada Allah dengan sebenar-benar pengenalan.

Nabi Musa as. pun bersedia belajar kepada Nabi Khidhr. Namun, sebelum melakukan proses belajar, Nabi Khidhr mengajukan perjanjian agar Nabi Musa as. tidak menanyakan tentang apapun sampai Khidhir sendiri yang menerangkannya, dan Nabi Musa as. menyetujuinya (Q.S. Al Kahfi 69-70)

Proses belajar itu menampilkan tiga peristiwa yang secara lahir nampak sebagai keburukan dan kedzaliman, yaitu

  1. Perahu yang dilubangi oleh Nabi Khidhr as. , karena terdapat penguasa dzalim yang selalu berupaya merampas perahu baik yang dilihatnya.
  2. Anak yang dibunuh oleh Nabi Khidhr karena ia akan membebani kedua orang tuanya yang mukmin dengan kedurhakaannya.
  3. Tembok di sebuah kota yang diperbaiki Nabi Khidhr tanpa imbalan. Padahal penduduk kota itu telah mengusir Nabi Khidhr. Hal ini karena di bawah tembok terdapat kekayaan milik dua anak yatim, warisan orang tuanya yang shalih. Jika tembok tidak diperbaiki, maka kekayaan itu tidak terjaga.

Tiga kasus diatas memberi pelajaran kepada setiap mukmin bahwa Allah menetapkan beberapa hal yang terkadang kita tidak mengetahui hikmahnya dan tidak memahami kebaikan yang ada di dalamnya. Ilmu seperti inilah yang tidak tertulis dalam Al-Qur’an. Hakikat inilah yang hendak Allah ajarkan kepada Nabi Musa as dan kepada kita semua.

 

Kisah Dzul Qarnain

Dzul Qarnain digambarkan sebagai sosok raja adil yang menebar kebenaran, keadilan, dan kebaikan di muka bumi. Dia memiliki berbagai perangkat menteri yang dapat mendukungnya untuk berkuasa dan sukses dalam kehidupan (Q.S. Al Kahfi 84).

Ia mengelilingi dunia dari timur hingga barat untuk menebarkan hidayah kepada umat manusia dan mengisi dunia dengan keadilan serta kebaikan, hingga akhirnya ia sampai ke suatu kaum yang hampir tidak dapat memahami ucapan.

Mereka berkata: “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” (Al Kahfi 94)

Meskipun mempunyai berbagai perangkat menteri, Dzulkarnain tetap meminta bantuan kepada mereka agar bersikap proaktif.

“… maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka.” (Al Kahfi 95)

Akhirnya kaum tersebut membangun tembok perkasa yang tetap berdiri hingga saat ini. Hingga kini, kita tidak dapat mengetahui posisi Ya’juj dan Ma’juj sampai terjadinya hari kiamat dan mereka keluar dari tembok tersebut.

 

Bersambung…

 

Referensi

Khalid, Amru. 2011. Khowathir Qur’aniyah. Jakarta: Al-I’tishom Cahaya Umat.

Comments (0)

write a comment

Name E-mail Website Comment

comments ( 0 )